Editorial
April 5, 2009 by saputra
Filed under Sapa Orator
Secara umum demokrasi adalah adanya kebebasan. Kebebasan berbicara, beragama, berekspresi, berkeyakinan, serta kebebasan untuk mengurus diri sendiri. Termasuk dalam urusan Pemilihan Umum.
Tak bisa dipungkiri saat ini semua orang baik laki-laki maupun perempuan saling tebar pesona dalam menggaet massanya. Secara historis, telah terjadi dominasi laki-laki dalam semua aspek masyarakat di sepanjang zaman. Dari sini muncul doktrin ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan. Perempuan tidak cocok memegang kekuasaan ataupun memiliki kemampuan yang di miliki laki-laki. Karena, hal itu dianggap tidak setara dengan laki-laki. Akan tetapi, kita paham bersama bahwa pada kenyataannya tidak terjadi perbedaan yang sangat jauh antara peran laki-laki dan wanita khususnya bidang sosial kemasyrakatan dalam hal amar ma’ruf nahi mungkar.
Tanggung jawab kaum wanita dalam penegakan amar ma’ruf nahi mungkar terlihat dalam nash-nash umum yang menunjukkan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar walaupun bentuk kalimat yang disebutkan didalamnya ditujukan pada kaum laki-laki namun mencakup kaum pria dan wanita.
Untuk konteks jaman sekarang, yang mana dekadensi moral telah terjadi dimana-mana, krisis dalam semua aspek terjadi di negeri yang kita cintai, maka peran semua pihak sangat dibutuhkan untuk melakukan pembenahan-pembenahan dimasa yang akan datang. Tentunya peran ini tidak tertuju pada kaum laki-laki saja , akan tetapi wanita juga mempunyai peran yang sangat penting dalam pembenahan-pembenahan tersebut.
Seseorang yang mempunyai kapabilitas keilmuan yang mumpuni dan juga kapabilitas keagamaan merupakan salah satu faktor utama untuk melakukan perubahan di seluruh sektor kehidupan. Saat ini yang kita semua butuhkan adalah orang yang benar-benar mempunyai keinginan yang kuat untuk membawa kita menuju amar ma’ruf nahi mungkar, terlepas apakah dia pria atau wanita, karena keduanya berasal dari esensi yang sama. Oleh sebab itu, apabila wanita dikatakan keji, maka laki-laki pun bisa dikatakan demikian, atau jika laki-laki bisa mempunyai kekuasaan di tengah-tengah wanita, maka wanita pun bisa memiliki kekuasaan di tengah-tengah laki-laki. Kesetaraan gender bisa dilihat dalam peranan ibu Ny Hj. Zainiyah asad, beliau merupakan sosok perempuan yang ideal. Ketebalan tembok pesantren bukanlah suatu halangan untuk berjuang. Kegigihannya sudah tidak diragukan lagi. Dengan demikian, patut kiranya seorang perempuan dijadikan seorang pimpinan. Tak pandang bulu, Dijaman ini baik perempuan maupun laki-laki bisa menjadi pimpinan. Asalkan saja dia mempunyai performance dan kemampuan yang dapat diandalkan.
Nah, dalam orator edisi kali ini dibahas mengenai peran perempuan dalam perpolitikan global. Seberapa besar peranan perempuan dalam lintas perpolitikan global kali ini. Simak saja sajian-sajian dari orator. So, selamat membaca.
SALAM MAHASISWA




