Saatnya Perempuan Pegang Kendali Perjuangan!!!

April 4, 2009 by saputra  
Filed under Utama

Oleh “Gubernur Fak. Dakwah”

kartini1Ketika dunia meniscayakan pluralitas kehidupan, maka dialog menjadi media utama untuk memperjuangkan ide, gagasan, atau pemikiran, juga kebenaran agama. Segala bentuk kekerasan fisik menjadi tidak absah, bahkan ditentang karena itu, jihad dengan makna perang menjadi tidak relevan untuk kondisi sekarang. Saatnya jihad dikembalikan kepada makna awalnya, saebagai kesungguhan untuk memperjuangkan persaudaraan, perdamaian, dan keadilan, yang tentu merupakan risalah keutamaan islam. Dalam hal demikian perempuan yang selalu disimbolkan dengan kedamaian untuk memegang kendali (perjuangan) keadilan, dan kedamaian.

Dalam banyak ritual keagamaan yang bersifat public seperti  politik umumnya, perempuan sering tidak dilibatkan secara penuh.perjuangan dalam pandangan keagamaan konvensional merupakan salah satu ibadah pulik yang meletakkan perempuan secara tidak setara dengan laki-laki. Sehingga perjuangan, dengan makna apapun, bagian perempuan hanya seputar kasur, dapur, dan sumur, atau kalaupun perang dalam perjuangan perempuan hanya berkisar pada jasa pelayanan, perawatan dan hiburan. Ini merupakan domistifikasi terhadap perempuan melalui ajaran keagamaan, yang tentu tidak sejalan dengan semangat kesetaraan dan keadillan
Perjuangan dalam arti perpolitikan perempuan terhadap publik perlu adanya pemaknaan ulang sehingga menjadi keharusan, bahkan keniscayaan. Lebih-lebih perempuan yang ada kaitannya dengan kondisi kontemporer yang sudah demikian mereduksi makna perjuangan dalam perpolitikan perempuan khususnya, sehingga ia tidak dipahami kecuali dengan arti perang atau kekerasan fisik yang berarti seputar kasur, dapur, dan sumur. Perjungan dengan makna perang dalam ikut andil perpolitikan perempuan harus dipahami sebagai historisitas persinggungan umat masa lalu, karena dalam era global seperti sekarang ini adalah angka kemiskinan didunia mennjukkan bahwa perempuan termasuk kategori miskin. Melihat fenomina tersebut perempuan harus berjuang untuk memerangi kebodohan dan kemiskinan. “kenapa sih, perempuan melacur?” antara lain karena persoalan ekonomi. Mereka terjepit betul dan tidak ada lagi untuk dijual, akhirnya dengan keadaan terpaksa dirinyalah yang dijual. Dari sinilah banyak hal yang perlu diluruskan kembali untuk hal-hal yang berkaitan dengan perempuan termasuk perempuan yang tampil dalam depan public.     Pandangan tentang bahwa perempuan itu lemah sehingga tidak perlu dan bahkan dilarang untuk tampil didepan public, saat ini anggapan seperti itu telah kehilangan argomentasi. Lemah atua kuatnya tidak terkait langsung dengan jenis kelmin, tetapi dengn pelatihan, makanan dan kemauan. Perempuan juga kut bahkan bisa lebih kuat dari laki-lak. Sejarah masa lalu juga membuktikan kemampuan perempuan untuk berjuang, sebutlah misalnya Nasaibah bint Ka’ab r.a  yang menghunus pedang melumpuhkan musuh-musuh yang akan membunuh Nabi Saw pada perang uhud, disaat para sahabad laki-laki terpukul mundur. Ketika perang Khandaq dan penjagaan madinah diserahkan kepada Hasan bin Tsabit, pada saat ada musuh yang menyelundup masuk ke  Madinah, ternyata Hasan gemetar menghadapi dan yang maju melawan bahkan membunuhnya adalah sahabat perempuan Shafyyah. Ratu Syajaratuddun di mesir juga pahlawan perang yang menerima tumpukan kekuasaan setelah berhasil memimpin pasukan perang melawan mongol yang masuk ke wilayahnya. Sejarah juga membuktikan tidak sedikit yang mencatat kemampuan dan kepiawaian perempuan dalam berperang.     Argomentasi keterkaitan dengan kewajiban pelayanan sehingga perempuan tidak diperkenankan tampil didepan public tanpa seidzin suami, juga perlu dipertanyakan kembali. Saat ini perjuangan didepan public khususnya untuk memerangi kemiskinan warga telah menjadi profesi , yang terkait dengan keahlian dan kemampuan, yang bisa saja digeluti oleh laki-laki dan perempuan. Profesi ini lebih terkait dengan relasi Negara dan warga daripada relasi suami dan istri.
Hadis-hadis yang membicarakan tentang “kancah perempuan didunia publik”, bahwa teks-teks tersebut merupakan pemaksaan terhadap jihad, sehingga pemaknaan tersebut sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman. Teks-teks hadist yang menceritakan tentang perempuan juga harus dipahami sebagai penghargaan Nabi  Saw pekerjaan rumah tanggapun juga bernilai tinggi, dihadapan Allah SWT, pekerjaan yang berhubungan dengan publikpun juga akan bernilai tinggi selama tidak hanya untuk semata-mata kepentingan pribadi, sehingga siapapun yang ingin memperoleh derajat tinggi bisa melakukannya, laki-laki dan perempuan, karena banyak factor yang menyatakan bahwa perempuan juga sama seperti laki-laki, meskipu kita sadari karakter antara laki-laki dan perempuan tidak dapat disamakan seperti dalam ayat “Orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan yang sebagian yang lain, sama-sam menganjurkan kepada kebaikan dan menghentikan kemungkaran”. Qs. Al-Taubah, 72.
Dalam hadist juga telah disebutkan bahwa “sebaik-baiknya Jihad (perjuangan) adalah menyatakan kebenaran dihadapan kekuasaan yang otoriter dan dzalim” (Riwayat Al-Nas’i) Jadi jelas dengan melihat latar belakang kondisi dan kompleks situasi tantangan kehidupan kontemporer, sekali lagi perjuangan dalam bidang apapun untuk dinamakan perjuangan tanpa kekerasan  (non-violence) dalam hal ini perempuan dan laki-laki sama-sama dituntut untuk melakukan perjuangan dan mewujudkan kehidupan yang adil, baik, dan sejahtera. Untuk itu perjuangan perempuan selama untuk mewujudkan kehidupan yang adil, baik dan sejahtera.. untuk itu perjuangan perempuan selama untuk mewujudkan keadilan bagi perempuan, dan mengarahkan segala daya dan upaya bagi penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan. Perjuangan perempuan seperti itu adalah perjuangan yang sesungguhnya dan selain itu untuk memdukung perempuan dan memperjuangkan perempuan yang tepuruk dari ketertindasan budaya, social, politik, termasuk agama. Dan sekarang jika da budaya ternyata otoritas dan dzalim terhadap perempuan perlu adanya pemahaman yang perlu diluruskan, karena saat ini pertempuan paling banyak yang menjadi korban-korban ketimpangan.
Perjuangan keadilan bagi perempuan tentu tidak hanya untuk perempuan tetapi untuk kehidupan yang adil bagi semua. Untuk kedamaian bagi semua, laki-laki dan perempuan. Perjuangan perempuan untuk kedamaian sejati, sedangkan substansi agama adalah kedeamaian. Dan simbol-simbol kedamaian adalah perempuan. Agama hadir untuk keadilan, perdamaian dan, cinta kasih. Perempuan adalh perekat, penjaga, dan pemrakarsanya, sedangkan perjuangan adalah instrumennya. Karena itu, saatnya perempuan untuk memegang kepemimpinan untuk melakukan perjuangan keadilan untuk menciptakan perdamaian sejati dan kehidupan yang penuh cinta kasuh bagi umat manusia.

Dukung Putra Indonesia dalam Kompetisi WEB Kompas MuDA & AQUA dengan memberikan Backlink ke Url ini: Kompetisi WEB Kompas MuDA & AQUA

Comments

One Response to “Saatnya Perempuan Pegang Kendali Perjuangan!!!”
  1. The best information i have found exactly here. Keep going Thank you

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!